Friday, 17 January 2014

MARI LURUSKAN CARA PANDANG: KRITIK ISI BUKU "JALUR GAZA" KARANGAN TRIAS KUNCAHYONO





Sebagai wartawan senior Kompas yang memiliki minat kuat dalam kajian konflik Timur Tengah, nama Trias Kuncahyono tidak bisa dipandang sebelah mata. Analisis yang dilakukan dan ditulis secara reportatif terkait konflik Timur Tengah adalah keunggulan yang dimiliki Pak Trias jika dibandingkan dengan penulis/pengamat Timur Tengah lainnya di Indonesia. Dengan kata lain, buku-buku yang ditulis oleh Trias Kuncahyono adalah alternatif yang baik di tengah minimnya literatur konflik Timur Tengah dalam Bahasa Indonesia. Setidaknya hal itu juga dikatakan oleh Anies Baswedan sebagai testimoni untuk buku ini.

Namun, ada beberapa hal yang menjadi catatan saya mengenai buku Pak Trias kali ini. Dalam kasus okupasi Jalur Gaza oleh Israel terhadap Palestina akhir tahun 2008, Pak Trias tampak ingin menyudutkan Hamas. Berkali-kali dalam buku ini ditulis bahwa inisiatif serangan dimulai oleh kubu Hamas melalui serangkaian peluncuran roket yang kemudian dibalas secara tidak adil oleh Israel. Secara alamiah, pembaca akan mengasumsikan bahwa segala macam penderitaan yang dialami oleh rakyat Gaza bersumber dari tindakan-tindakan Hamas. Pembaca akan berpikir demikian karena mau tidak mau, ketika seorang pembaca diperlihatkan sebuah tragedi kemanusiaan dalam bentuk kejahatan perang, salah satu cara untuk memikirkan solusinya adalah melihat kembali proses awal mula terjadinya konflik tersebut.  Dengan demikian, pembaca akan mulai tergiring untuk menyimpulkan bahwa semua penderitaan dimulai dari serangan roket Hamas ke wilayah Israel. Secara implisit, Pak Trias menggiring pembaca untuk menyepakati satu hal bahwa untuk mencegah terjadinya peperangan, maka hal-hal yang memicu terjadinya perang harus ditiadakan. Dengan kata lain, kampanye perdamaian yang disampaikan oleh Pak Trias (seolah) akan terwujud jika Hamas berhenti menyerang Israel dan melucuti persenjataan mereka.

Sebagai contoh, dalam buku ini, Pak Trias membahas kebrutalan Israel yang dikaitkan dengan hukum internasional. Menurut hukum internasional, sebuah serangan militer harus memiliki dua syarat yaitu; 1. alasan yang membenarkan (jus ad bellum), 2. Tata cara pelaksanaan serangan (jus in bello). Penekanan Pak Trias adalah bahwa Israel menyalahi syarat yang kedua yaitu tata cara pelaksanaannya. Hal itu karena Israel menyasar target sipil yang secara tegas dilindungi berdasarkan Konvensi Genewa.[i] Kebetulan, penderitaan masyarakat sipil ini juga yang mendapatkan porsi tulisan hampir di seluruh isi buku. Sedangkan syarat pertama dianggap tidak ada masalah. Secara halus, Pak Trias ingin menyatakan kalau syarat yang pertama sudah terpenuhi oleh Israel. Syarat itu adalah alasan yang membenarkan serangan militer. Dan alasan yang membenarkan tersebut adalah serangan roket-roket Hamas.

Berikutnya, Pak Trias secara tidak langsung melabeli Hamas sebagai organisasi radikal, kalau tidak mau dikatakan teroris. Hal tersebut terlihat dari pemilihan kutipan referensi yang digunakan yang memang secara tegas mengatakan kalau Hamas adalah organisasi yang anti damai serta bernuansa kekerasan.[ii]  Pak Trias mungkin lupa, kalau dukungan masyarakat Palestina terhadap Hamas yang berujung pada kemenangan pemilu Januari 2006 berakar pada kerja-kerja sosial yang nyata serta komitmen perjuangan kemerdekaan yang selalu dilakukan Hamas di tengah masyarakat.

Hal tersebut merupakan cara penggiringan opini yang kurang bijak dalam mencerdaskan pembaca (awam) yang saat ini memiliki animo luar biasa terkait tragedi kemanusiaan di Timur Tengah,  khususnya Palestina. Seharusnya, Pak Trias juga menyampaikan butir-butir Protokol Zion yang dirumuskan oleh Theodor Herzl dan rekan-rekannya terkait cita-cita eksistensi bangsa Yahudi. Dinamika konferensi Zionis internasional yang berujung pada pemilihan Palestina sebagai tempat gerakan pulang kampung Yahudi sedunia memang sangat penting. Namun, menampilkan butir-butir protokol Zion yang dihasilkan dari konferensi tersebut juga tidak kalah penting. Saya tidak percaya apabila orang sekaliber Pak Trias tidak pernah membaca protokol tersebut. Tapi saya juga tidak ingin menganggap Pak Trias dengan sengaja (seperti) menyembunyikan isi protokol Zion yang intinya menegaskan bahwa Bangsa Yahudi adalah serigala di antara manusia lain yang hanya domba. Konon, sejak membaca protokol ini, Adolf Hitler mulai melakukan program pembasmian orang-orang Yahudi saat Nazi berkuasa di sebagian wilayah Eropa.[iii]

Terkait serangan yang dilakukan Hamas terhadap Israel, sepertinya Pak Trias perlu memperkaya literaturnya dengan ulasan-ulasan Sigmund Freud atau Edward Said. Freud misalnya, dalam karya terakhirnya yang berjudul “Moses and Monotheism” menyiratkan bahwa entitas yang bernama Yahudi adalah sebuah nama yang tidak memiliki akar identitas sama sekali. Bahwa Musa yang dijadikan bapak oleh kaum Yahudi bukanlah orang Yahudi, melainkan orang Mesir. Dan ajaran monoteisme (satuTuhan) dipelajari orang Yahudi dari agama Firaun di Mesir. Artinya, jika hari ini Zionisme membela mati-matian eksistensi Israel demi identitas ke-Yahudi-an mereka, maka hal tersebut adalah sesuatu yang delusional.[iv]

Edward Said juga memberi pendapat terkait serangan yang dilakukan Hamas atas nama Palestina. Menurut Said, serangan-serangan roket tersebut tidak bertujuan untuk mengalahkan Israel karena memang hal tersebut secara teknis mustahil. Sebaliknya, serangan tersebut justru bertujuan untuk menjaga kewarasan warga Palestina terhadap pembersihan etnis yang dilakukan Israel. Dengan serangan-serangan tersebut, Hamas ingin menunjukkan kepada Israel dan masyarakat dunia bahwa Palestina masih ada sekalipun Israel berusaha keras untuk melenyapkan mereka.[v] Serangan militer yang dilancarkan Israel serta blokade telah membuat warga Palestina begitu menderita dan merasa tidak lagi eksis di dunia. Semua tindakan ofensif yang dilakukan pihak Palestina termasuk bom bunuh diri merupakan upaya untuk memantulkan kembali kekejaman yang dilakukan Israel terhadap mereka. Itulah cara satu-satunya bagi masyarakat Palestina untuk mendapatkan atensi dari dunia luar, termasuk kita di Indonesia.

Kesimpulannya, meskipun cara penulisan buku ini tidak seperti buku teks atau laporan penelitian ilmiah, namun buku ini sama sekali bukan bacaan untuk para pemula studi Timur Tengah. Saya rasa buku ini tidak layak dibaca oleh para pembaca awam. Sebaliknya, buku ini akan sangat bermanfaat bagi pembaca yang sudah memiliki basis pemahaman yang cukup baik terkait studi Timur Tengah. Data dan informasi yang disampaikan dalam buku ini cukup valid dan tidak dimanupulasi. Yang menjadi masalah adalah penggiringan opini melalui data-data yang tidak berimbang yang dalam kasus Gaza terlalu menyudutkan Hamas sebagai biang kerok konflik yang terjadi. Kapasitas Trias Kuncahyono sebagai wartawan senior seharusnya bisa menampilkan gaya tulisan yang “cover both sides” sebagai salah satu pakem dunia jurnalistik. Mengutip kekhawatiran Christopher Bollas, cara berpikir Trias Kuncahyono ini sepertinya bisa melengkapi genosida etnis yang dilakukan Israel, yaitu genosida intelektual seperti yang sudah banyak tampil dalam narasi Barat tentang Palestina.[vi]

Serangan roket-roket Hamas seharusnya bisa dilihat dari perspektif yang berbeda jika penggalian literatur kita diperluas. Sebagai contoh, beberapa penulis mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Hamas adalah bentuk perlawanan yang sah, bahkan merupakan hak mempertahankan diri. Hal ini sudah ditegaskan oleh banyak pihak bahwa Palestina berhak “membela dirinya” sendiri.[vii] Bahkan, hal tersebut juga diatur dan disahkan dalam Konvensi Genewa yang sayangnya tidak disinggung sama sekali oleh Pak Trias. 

Hal terakhir yang membuat saya sangat kecewa dengan pemaparan Pak Trias adalah tulisan mengenai kiprah Salahuddin al Ayyubi di Gaza. Secara tidak berimbang, Pak Trias menggiring opini pembaca untuk menyepakati bahwa Salahuddin adalah seorang pengacau yang menghancurkan Gaza tatkala Ksatria Templar mempertahankan kota itu mati-matian. Sebaliknya, Richard si “Hati Singa” justru digambarkan sebagai pemimpin yang membangun Gaza kembali dari kehancurannya akibat ulah Salahuddin.[viii] Hal ini tentu sangat berlawanan dengan literatur Perang Salib pada umumnya yang mengatakan bahwa Salahuddin berperang secara hebat dan penuh kehormatan. Di antara kronik Perang Salib antara Salahuddin dan Richard yang paling terkenal adalah peristiwa pembantaian di Acra. Atas perintah raja Richard, pasukan Salib memenggal 2.500 umat Islam di Acra yang menjadi tawanan mereka saat perang.[ix] Dari kebiadaban yang dilakukan Richard, hal ini menjadi pembeda yang jelas antara siapa Salahuddin dan siapa Richard. Sayangnya, fakta sejarah mengenai pembantaian Acra tidak dibahas sama sekali. Yang ada justru invasi pasukan Napoleon ke Acra yang menjadi ibukota Palestina saat itu.

Salah seorang dosen saya dulu pernah mengatakan kalau Israel tidak mengenal teori diplomasi apapun. Satu-satunya alat diplomasi bagi Israel adalah senjata. Jadi, adalah hal yang percuma mengampanyekan perdamaian kepada pihak yang menganggap diri mereka sebagai serigala bagi pihak lain yang dianggap domba. Dalam setiap konflik di Palestina, Israel harus diberikan lampu sorot sebagai bintang utama kekerasan, dan bukan disodorkan (secara naïf) solusi dua negara berdaulat yang mulai terdengar utopis.

Untuk menutup tulisan ini, saya ingin mengutip sebagian lirik lagu dari seorang musisi beraliran rock dari Amerika Serikat keturunan Armenia yang juga aktivis anti-perang bernama Serj Tankian. Dalam lagu berjudul “Occupied Tears”, Serj mengatakan;

                                Holocaust, you taste the great fears
                                How can you just occupy another child`s tear
                                Don’t you all know?
                                Don’t you all care?
                                Don’t you all see how this is not fair
               


[i]  Trias Kuncahyono, Jalur Gaza: Tanah Terjanji, Intifada, dan Pembersihan Etnis, Jakarta: Kompas, 2009, hal. 248
[ii]  Ibid, hal. 259
[iii]  Pembasmian Yahudi yang sering disebut holocaust terjadi secara sistematis pada era fasisme Nazi di Eropa. Meskipun angka jumlah korban masih diperdebatkan, namun fakta-fakta sejarah membuktikan genosida ini pernah terjadi saat perang dunia kedua.
[iv]  Sigmund Freud sendiri adalah seorang Yahudi yang berasal dari Austria. Dia ikut menjadi korban gejala anti-Semit (anti Yahudi) yang menyebar di Eropa dan membuatnya harus mengungsi ke Inggris sampai akhir hidupnya. Lihat, Sigmund Freud, Moses and Monotheism, terj; Katherine Jones, New York: Vintage, 1967.
[v]  Edward Said, Bukan Eropa: Freud dan Politik Identitas di Timur Tengah, Tangerang: Marjin Kiri, 2005, hal. 5
[vi]  Lihat, Christopher Bollas, Being a Character, London: Routledge, 1992, hal. 207
[vii]  Lihat, Muhsin Labib dan Irman Abdurrahman, Gelegar Gaza: Denyut Perlawanan Palestina, Jakarta: Zahra, 2009.
[viii]   Op.Cit, Trias Kuncahyono, hal. 124 – 125
[ix]  Dalam film Robin Hood (2010) karya sutradara Ridley Scott, kisah pembantaian di Acre ini juga menjadi salah satu sudut pandang penting di alur awal cerita. Dikisahkan dalam film ini bahwa Robin Loxley, sebelum menjadi Robin Hood merupakan tentara dalam perang Salib. Ketika ia menyaksikan pembantaian umat Islam di Acra, ia kehilangan rasa hormatnya pada Raja Inggris. Saat itulah, ia merasa perang yang dijalani olehnya bukan atas nama Tuhan lagi. Bahkan, ia merasa saat pedang Pasukan Salib menebas leher ribuan umat Islam yang tidak berdaya itu, saat itulah mereka kalah dan sudah tidak ber-Tuhan lagi.

Sunday, 10 November 2013

ISRAEL DI BELAKANG PEMBUNUHAN ARAFAT: SIAPA LAGI?






                                                                    original pict from

Setelah hampir satu bulan, media internasional sibuk memberitakan prahara penyadapan komunikasi yang dilakukan oleh intelejen AS, tiba-tiba Al-Jazeera merilis laporan mengenai sebab-sebab kematian Yasser Arafat, pemimpin legendaris dari Palestina.

Laporan yang disusun dengan sangat detail itu memuat berbagai dokumen yang dikeluarkan ilmuwan dari Swiss yang menyimpulkan adanya kemungkinan yang sangat kuat bahwa Arafat tewas karena diracun. Zat pembunuh yang menjadi eksekutor Arafat adalah Polonium, jenis zat radioaktif yang hanya bisa diproduksi melalui reaktor nuklir. Polonium adalah zat yang sangat beracun apabila masuk ke aliran darah. Efeknya bisa sangat mematikan seperti halnya sianida yang biasa digunakan dalam operasi pembunuhan tokoh politik. 

Arafat yang kita kenal adalah tokoh perjuangan rakyat Palestina yang sangat legendaris. Dialah ikon sekaligus simbol perlawanan rakyat Palestina terhadap penjajahan Israel sejak pertama kali negara Yahudi itu mendeklarasikan diri. Arafat juga menjadi tokoh pendiri PLO (Palestine Liberation Organization) yang menjadi wadah semua organisasi pembebasan Palestina. Melalui organisasi bernama Fatah yang menjadi faksi terbesar di PLO, Arafat membawa isu kemerdekaan Palestina ke se-antero bumi. 

Arafat muda sangat sering terlibat dalam konflik bersenjata dengan Israel. Berdirinya PLO menjadi momok tersendiri bagi eksistensi Israel yang menguasai hampir seluruh wilayah Palestina. Arafat harus jatuh bangun berkejaran dengan militer Israel ke negara-negara tetangga untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Di setiap negara yang ia singgahi, militer Israel selalu berhasil mengejar dan memberikan pukulan telak yang berujung pada banyak sekali tragedi kemanusiaan. Hal ini membuat setiap negara Arab yang dikunjungi PLO jadi merasa terancam karena takut dianggap melindungi “musuh Israel”. Mereka tidak mau terkena imbas konflik antara PLO dengan Israel seperti yang terjadi pada Lebanon. 

Menurut hemat saya, Arafat ini menemukan titik jenuh yang luar biasa ketika harus berkejaran dengan militer Israel selama puluhan tahun. Strategi konfrontasi senjata mulai ia tinggalkan ketika masuk periode 1990-an. Sejak periode itulah, Arafat mulai mengakui eksistensi Israel. Ia mulai senang dengan perjuangan diplomasi dari perundingan ke perundingan. Tahun 1993, lahirlah kesepakatan Oslo yang memaksa PLO untuk mengakui eksistensi Israel di Palestina. Di sisi lain, Israel juga harus menjamin otoritas PLO untuk mengatur wilayah Gaza dan Tepi Barat. Sontak, kesepakatan ini mencederai banyak sekali faksi di PLO. Mereka mulai menganggap Arafat sebagai pengkhianat. Alih-alih menyepakati perjanjian Oslo, mereka memilih untuk tetap melakukan perlawanan bersenjata terhadap Israel.

Imbas dari kedekatan Arafat dengan Israel ini adalah perpecahan luar biasa di dalam batang tubuh PLO. Faksi Islam seperti Hamas tidak pernah sedikitpun memercayai meja perundingan dengan Israel, apalagi yang dimediasi oleh Amerika Serikat. Puncak dari kekecewaan ini adalah meletusnya gerakan Intifada yang begitu masif dan meluas. Intifada membuat pihak Israel semakin geram terhadap Palestina. Mereka kemudian menekan Yasser Arafat untuk dapat bertindak tegas dan menertibkan faksi-faksi bersenjata di Palestina. Pada titik inilah, saya menilai Arafat mulai menghadapi dilema. Di satu sisi, taktik diplomasi yang ia lakukan tidak memberikan keuntungan langsung. Di sisi lain, kelompok Islamis tidak mendukungnya sama sekali. hal inilah yang kemudian membuat Arafat bersikap pasif terhadap segala desakan dan tekanan Israel.

Memasuki periode 2000-an awal, Israel semakin menyadari ketidakberdayaan Arafat dalam proksimitas kepentingan mereka. Untuk itulah, menurut saya, Israel berkepentingan untuk menyingkirkan Arafat dan digantikan dengan pemimpin sekuler lain yang lebih kooperatif. Di sisi lain, popularitas Hamas sebagai representasi kelompok Islam di kalangan rakyat Palestina semakin besar. Israel jelas membutuhkan kendaraan politik seperti Partai Fatah untuk menjajaki kemungkinan perundingan-perundingan damai yang lebih diplomatis. Sekadar catatan, isu terpenting dari setiap rezim pemerintahan di Israel adalah keamanan nasional. Sukses tidaknya seorang Perdana Menteri diukur langsung dari angka serangan yang dilakukan pihak pejuang Palestina ke wilayah Israel. 

Dengan demikian, saya mendukung penuh semua bukti temuan para ilmuwan, termasuk ahli forensik ternama, Dave Barclay yang mengatakan kalau Arafat tewas karena diracun. Sampai tulisan ini dibuat, pihak Israel masih menolak tuduhan yang diberikan pada mereka. Meski demikian, para ahli nuklir dan ilmuwan meyakinkan publik bahwa material radioaktif seperti polonium hanya bisa diproduksi melalui reaktor nuklir. Sedangkan, reaktor nuklir hanya bisa dimiliki oleh negara yang tercatat memiliki nuklir. Dalam kaitannya dengan Palestina, negara tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Israel. Kasus yang justru menarik untuk dikembangkan adalah tuduhan dari Suha Arafat, istri Yasser Arafat yang dulu pernah menuduh ada persekongkolan jahat yang membunuh suaminya. Pada hari-hari terakhir Arafat di rumah sakit di Perancis, ada sekelompok orang dari gerakan Fatah yang menjenguk. Suha menyebut para penjenguk itu sebagai kelompok konspirator yang berniat membunuh suaminya. Di antara para penjenguk suaminya itu, terdapat Mahmoud Abbas yang hari ini menjabat sebagai Presiden Palestina.

Monday, 9 September 2013

SELEBARAN-SELEBARAN PROPAGANDA

                                                                     original pict from                   


Sebelum Amerika Serikat menginvasi Afghanistan pasca serangan gedung WTC 11 September 2001, mereka menyebarkan flyers ke penjuru kawasan. Isi selebaran yang disebar kepada warga tersebut adalah;

Apa kalian suka berada di bawah kekuasaan Taliban? Apa kalian bangga menjalani kehidupan dalam ketakutan? Apa kalian bangga tempat yang kalian tinggali selama beberapa generasi adalah markas teroris? Apa kalian menginginkan sebuah rezim yang mengantarkan Afghanistan ke zaman batu dan memberikan citra buruk pada Islam? Apa kalian bangga hidup di bawah pemerintahan yang menyembunyikan teroris? Apa kalian bangga untuk hidup di sebuah negara yang dikuasai oleh kelompok fundamentalis ekstrim? Taliban sudah merampok budaya dan kekayaan negara kalian. Mereka sudah menghancurkan monumen nasional serta artefak kebudayaan kalian. Mereka memerintah dengan paksaan, kekerasan, dan ketakutan yang mereka pelajari dari para penasehat asing. Mereka berkeras kalau gaya pemerintahan Islam mereka adalah satu-satunya sistem yang benar, sistem yang disahkan oleh Tuhan. Mereka menganggap diri mereka sebagai ahli agama sekalipun mereka sebenarnya orang dungu. Mereka membunuh, berlaku tidak adil, dan membuat kalian tetap miskin sambil mengklaim semua itu atas nama Tuhan.

Dengan sangat kritis, William Blum menganggap selebaran seperti ini juga pantas disebarkan di atas wilayah Amerika Serikat. Tentunya dengan sedikit perubahan, menjadi seperti ini;

Apa kalian senang berada di bawah kekuasaan Partai Republik dan Demokrat? Apa kalian bangga untuk hidup di bawah ketakutan, ketidak-amanan, dan kepanikan? Apa kalian senang melihat tempat yang kalian tinggali selama beberapa generasi diambil alih oleh bank? Apa kalian menginginkan sebuah rezim yang mengubah Amerika Serikat menjadi negara polisi dan memberikan citra buruk pada ajaran Kristen? Apa kalian bangga hidup di bawah pemerintahan yang menyembunyikan ribuan teroris di Miami? Apa kalian bangga hidup di sebuah negara yang diatur oleh para kapitalis ekstrim dan konservatif religius? Para kapitalis sudah merampok rasa keadilan dan persamaan di bangsa kalian. Mereka sudah menghancurkan taman nasional dan sungai-sungai kalian. Mereka juga sudah mengorupsi media, pemilu, dan hubungan pribadi di antara kalian. Mereka memerintah dengan ancaman seperti pengangguran, kelaparan, dan ancaman ketiadaan tempat tinggal. Semua itu mereka jalankan berdasarkan nasehat dari tuhan mereka yang bernama pasar. Mereka berkeras kalau cara mereka mengelola masyarakat dan membangun dunia adalah cara satu-satunya yang benar, yang disahkan oleh Tuhan. Mereka menganggap diri mereka sebagai para ahli moral meski sebenarnya mereka dungu. Mereka membom, menginvasi, membunuh, membantai, menggulingkan penguasa lain, dan berlaku tidak adil. Mereka membuat kalian dan dunia tetap dalam kesengsaraan sambil mengatakan semua itu atas nama Tuhan.

Dikutip dari buku Rogue State: A Guide to the World`s Only Superpower, karya William Blum tahun 2002

Tuesday, 27 August 2013

IMPLIKASI LUAS PENGUNDURAN DIRI EL-BARADEI



                                                                     original pict from

Setelah kudeta berdarah yang dilakukan militer terhadap pemerintahan Muhammad Mursi, situasi tidak menjadi lebih baik. Mesir menuju negara gagal ...
                Kudeta yang terjadi pada akhir Juli 2013 menjadi titik balik proses revolusi sekaligus demokratisasi di Mesir yang sedang berlangsung. Situasi kemudian berkembang menjadi semakin tidak terkendali. Para demonstran damai dibubarkan paksa oleh aparat militer dengan cara sadis. Mereka ditembaki secara acak oleh para penembak jitu yang disebar di beberapa gedung bertingkat. Setidaknya, jumlah korban meninggal dari pihak demonstran mencapai angka yang mengejutkan yaitu 750 orang. Tidak hanya para demonstran pendukung Presiden Mursi, beberapa jurnalis lokal dan internasional juga ikut menjadi korban kekejaman aparat Mesir.
                Sikap Ikhwanul Muslimin yang bersikeras tetap turun ke jalan sekalipun sudah diberi tindakan keras oleh aparat membuar militer semakin gusar. Puncaknya, militer membongkar paksa tenda-tenda para demonstran serta mengambil alih kembali Masjid Fatah yang sebelumnya menjadi tempat berkumpul para demonstran. Operasi represif ini menjatuhkan banyak korban dari pihak demonstran serta meninggalkan foto-foto yang begitu mengerikan di banyak media internasional.
Pembebasan Husni Mubarak
                Situasi semakin rumit tatkala Husni Mubarak bersiap-siap untuk dibebaskan. Hal ini terjadi karena sistem hukum di Mesir yang begitu pro dengan kekuatan militer. Namun, pada teorinya, Husni Mubarak memang sudah seharusnya dibebaskan jika mengacu kepada aturan hukum di Mesir. Undang-undang peradilan di Mesir membolehkan seorang tahanan untuk dibebaskan jika dalam tempo 24 bulan si tersangka belum mendapatkan vonis pengadilan.[i] Ironisnya, pada waktu yang bersamaan, Muhammad Mursi juga akan disidang di pengadilan atas tuduhan provokasi dan pembunuhan saat terjadinya demonstrasi massal. Dengan demikian, dalam sejarah Mesir, akan terjadi dua persidangan untuk dua presiden yang berseteru. Yang satu untuk membebaskan mantan presiden Husni Mubarak. Sedangkan sidang yang satunya lagi untuk memenjarakan presiden terpilih, Muhammad Mursi. Bagi para pengamat hukum seperti Mike Hanna, yang terpenjara sebetulnya bukanlah presiden Mursi melainkan sistem hukum itu sendiri.[ii]
                Rencana pembebasan Mubarak ini jelas membuat kubu pro-revolusi 25 Januari yang notabene sebagiannya juga pendukung kudeta militer menjadi terperanjat. Common enemy bagi rakyat Mesir saat revolusi adalah Husni Mubarak, tiba-tiba hari ini simbol pemersatu kemarahan rakyat Mesir itu justru akan dibebaskan. Masih sangat jelas di ingatan mereka, semangat yang begitu menggelora tatkala berkumpul di Tahrir Square sambil meneriakkan “irhal” (turun)! Kepada Husni Mubarak. Maka, sangat jelas pula perasaan yang mereka alami saat ini tatkala harus menerima kenyataan bahwa Husni Mubarak akan segera dibebaskan, meski tidak kembali menjadi presiden.
El-Baradei ditahan
                Isu pembebasan Husni Mubarak memicu tokoh sentral kelompok oposisi seperti El-Baradei untuk bereaksi. Namun, tidak disangka-sangka, reaksi yang ia lakukan adalah pengunduran diri secara sepihak dari jabatannya sebagai wakil presiden di pemerintahan sementara. Sikap El-Baradei ini bisa dipahami sebagai konsekuensi moral politiknya. El-Baradei menjadi salah satu tokoh sentral perlawanan terhadap Husni Mubarak yang sekaligus dinobatkan menjadi calon presiden melalui partai An-Nour yang ia dirikan. Pada masa kekuasaan Presiden Mursi, ia juga menjadi sosok yang begitu menokoh dalam rangka menentang arus Islamisasi yang ia anggap sebagai kediktatoran baru. Ia bersama-sama dengan pihak militer mendukung kudeta terhadap Presiden Mursi. Pembebasan Husni Mubarak menjadi tamparan keras bagi posisinya hari ini yang dilematis di antara kubu pro-revolusi dengan militer. Lalu, keputusan akhir yang diambilnya adalah mengundurkan diri secara sepihak. Hal ini kemudian memicu reaksi balik yang juga mengagetkan. El-Baradei justru diburu oleh pihak aparat dengan tuduhan berkhianat terhadap revolusi rakyat.
                Pada saat pengunduran dirinya, El-Baradei berkata pada publik “....I always saw peaceful alternatives for resolving this societal wrangling, certain solutions were proposed, which could have led to the national conciliation, but things have come this far...It has become difficult for me to continue bearing the responsibility for decisions at which I do not agree, and I fear their consequences; I cannot bear the responsibility for single drop of blood before God, before my own conscience or citizens ...”.[iii] Setelah itu, ia melarikan diri ke Wina, Austria di bawah perlindungan PBB. Sampai hari ini, El-Baradei maih merupakan buronan aparat militer Mesir dengan tuduhan mengkhianati kepercayaan rakyat.[iv]
                Sebelum pengunduran diri El-Baradei, mayoritas analis asing memprediksi sebuah perang saudara berskala masif di Mesir. Hal itu didasarkan pada sikap IM yang tidak kunjung bergandengan tangan dengan kubu militer. Sikap terakhir dari IM adalah tetap bertahan di jalan-jalan meskipun Jenderal Al-Sisi memberi ultimatum dan mengancam akan menggunakan kekuatan penuh dengan dalih untuk mengembalikan “stabilitas”. Ditambah lagi jumlah korban yang sudah dan masih berjatuhan dari kubu demonstran. Seruan berdemonstrasi bagi kubu IM sudah bertendensi sebagai jihad, sedangkan para korban yang meninggal dilabeli sebagai martir dan syuhada. Pihak IM tidak punya pilihan selain bertahan dari apa yang mereka sebut sebagai pemenggalan proses demokrasi. Hal senada juga dikuatkan oleh John Esposito yang mengatakan bahwa “Mohamed Morsi and the Brotherhood's Freedom and Justice Party came to power through ballots, not bullets”.[v] Jika IM mundur dari perlawanan politik mereka, maka sayap-sayap politik Islam di seluruh dunia tidak akan percaya lagi dengan proses demokratisasi dan kembali mengangkat senjata. Hal itu, sama artinya dengan menyambut era radikalisme baru yang pastinya lebih brutal dan intoleran. Usaha puluhan tahun untuk membuat dunia percaya kalau kelompok Islam bisa berpartisipasi dalam demokrasi akan runtuh seketika.
                Banyak juga analis yang memprediksi pecahnya perang saudara di Mesir menuju sebuah negara gagal (failed state). Namun, dengan penangkapan El-Baradei ini, skenario kemungkinan akan berubah drastis. Kali ini, skenario revolusi 25 Januari bisa jadi akan terulang kembali. Kubu Islamis dan sekuler-liberal akan bersatu kembali menentang kediktatoran militer yang ternyata berada di balik pembebasan Husni Mubarak. Di sisi lain, sikap kelompok pengusaha yang selama ini dekat dengan militer akan sangat dinanti. Hal itu dikarenakan aliran dana bagi kubu yang pro atau kontra terhadap rezim sebagian besar dialirkan dari atau melalui mereka. Meski demikan, banyak juga pakar yang mengatakan kalau sikap pengusaha ini sebagian besar didasari pada keamanan aset investasi mereka. Dengan kata lain, dukungan sebagian besar pengusaha kepada militer selama ini lebih disebabkan faktor pragmatisme untuk iklim usaha mereka sendiri.
Sayangnya, di saat bantuan finansial dari negara-negara Barat mulai terhenti, justru negara-negara monarki di Teluk yang mengambil alih pemberian bantuan. Arab Saudi, UAE, dan Kuwait misalnya, memberi bantuan yang langsung ditujukan kepada pemerintah junta militer Mesir dengan harapan segera menumpas gerakan terorisme (baca: Ikhwanul Muslimin). Alih-alih menentang kudeta militer, rezim monarki di Teluk justru sepakat dengan stigma teroris yang disematkan pada kelompok Islamis seperti Ikhwanul Muslimin. Tidak hanya bantuan dana, Saudi Arabia juga memberi bantuan moral berupa fatwa dari ulama Wahabi di negara mereka. Fatwa itu mengatakan bahwa demonstrasi yang melibatkan anak-anak dan perempuan adalah haram. Intinya, para ulama wahabi menginginkan agar para pendukung Muhammad Mursi segera kembali ke rumah dan menjaga darah serta kehormatan mereka. Fatwa ini menyebar luas di media sosial dan menimbulkan banyak sekali perdebatan.
Di sisi lain, pihak militer dan juga kelompok oposisi masih sibuk mempersiapkan agenda rekonsiliasi nasional untuk menyambut pemilu berikutnya. Rekonsiliasi nasional yang di dalamnya mengajak semua pihak tidak dihiraukan oleh kubu Ikhwanul Muslimin. Dalam ulasannya di Aljazeera, Anwar Ibrahim mengatakan kalau rekonsiliasi nasional yang melibatkan semua pihak tidak mungkin bisa dilaksanakan di bawah kendali penguasa yang tidak sah. Rekonsiliasi juga tidak mungkin dilakukan tatkala salah satu pihak menodongkan senjata ke arah kepala pihak lain. Sebaliknya, rekonsiliasi hanya bisa dilakukan setelah Presiden Mursi dikembalikan ke kantornya yang sah dan seluruh pendukungnya dibebaskan.
Sampai tulisan ini diangkat, pihak militer sudah memenjarakan hampir seluruh pimpinan tertinggi Ikhwanul Muslimin, selain presiden Mursi. Sebagai catatan, lokasi penahanan Presiden Mursi dan beberapa petinggi IM sampai hari ini masih dirahasiakan oleh pihak militer. Tidak hanya itu, Mohammed El-Beltagy, ketua Partai Kebebasan dan Keadilan juga ikut ditangkap dengan tuduhan yang kurang lebih sama seperti para petinggi IM yang lain. Begitu pula dengan Mursyid Am IM, Mohammad Badie yang juga ditangkap oleh pihak militer. Badie adalah pucuk tertinggi dalam struktur organisasi pergerakan dakwah IM. Kebanyakan anggota IM sangat meyakini konsep Qiyadah wa Jundiyah (pimpinan dan pasukan) yang kemudian berimplikasi pada loyalitas seorang anggota dengan pimpinan jamaah mereka. Ditangkapnya Mohammad Badie merupakan tikaman langsung ke jantung konsep loyalitas ini. Dengan kata lain, situasi ini tidak akan membuat para anggota IM mundur, sebaliknya, sikap mereka akan semakin keras demi mempertahankan eksistensi jamaah. Dengan situasi seperti ini pula, ajakan pihak oposisi dan militer agar IM mau ikut dalam program rekonsiliasi nasional agaknya semakin sulit untuk diwujudkan.


[i]   Hisham Kassem, wartawan dan mantan redaksi di koran al-Masry al-Yaum
[ii]   http://www.aljazeera.com/indepth/features/2013/08/2013824125512434521.html
[iv]  Dokumen tuntutan untuk El-Baradei disusun oleh guru besar ilmu hukum bernama Sayyid Atiq dari Universitas Helwan
[v]  http://www.aljazeera.com/indepth/opinion/2013/08/201382512315443971.html